Hero Dalam Akses Pendidikan
Pendidikan di Indonesia
sendiri masih dibilang cukup sulit untuk diakses, begitu banyak anak-anak
berbakat dengan masa depan yang cerah tidak bisa meraih mimpinya karena
terhalang ekonomi dan tempat yang kurang memadai, dan banyak bakat yang
seharusnya bisa diasah namun karena kurangnya tempat untuk meletakkan bakat
anak-anak ini serta kursus yang mahal membuat banyak anak merasa minder dan
menutup erat bayangan masa depannya.
Namun, meskipun kurangnya
edukasi dan tempat belajar ini membuat para superhero yang tidak memakai jubah
ini malah bersemangat dalam mengobarkan api pendidikan mereka terhadap anak-anak
yang ingin merubah masa depan mereka, dua diantara nya adalah Irwan Bajang dari
Sleman Yogyakarta dan Surya Dharma dari Palu, Sulawesi Tengah.
Dua orang dengan kualitas
baik ini dengan baik membuat tempat untuk anak-anak bisa belajar secara informal
dan mendapatkan pendidikan yang memadai, kalau Surya Dharma dengan penjuang
pendidikannya dan membantu anak-anak
bisa belajar dan mendapatkan ijazah, sedangkan Irwan Bajang sendiri sebagai si penular virus menulis yang membuat
tempat agar anak-anak bisa mengeluarkan bakatnya dalam menulis sekaligus
mengajari mereka tentang dunia tulis-menulis.
Si Penular Virus Menulis
Irwan
Bajang - Sleman, DI Yogyakarta
Seperti yang kita tahu,
tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan untuk mengeluarkan ide atau isi
kepala mereka lewat tulisan tanpa adanya wadah atau pembimbing, padahal menulis
juga merupakan kegiatan yang cukup bagus untuk dilakukan dan akan menghasilkan
sesuatu yang baik jika yang ditulis juga bermanfaat bagi setiap pembacanya.
Sebuah tulisan juga mempengaruhi bagaimana keadaan seseorang terhadap kita dari
sisi pembaca.
Namun salah satu lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran
Yogyakarta yang berhasil menjadi pendiri tempat pendidikan tulis-menulis yaitu
Independent School tahun 2011 silam.
Irwan Bajang atau yang
biasa dipanggil Irwan adalah pendiri wahana pendidikan ini, tidak sendirian, ia
beserta teman-teman nya yang juga pernah satu fakultas bersama nya di Fakultas
Komunikasi Jurusan Hubungan Internasional ia mengajarkan banyak hal kepada
siswa SMP sampai mahasiswa tentang dunia tulis menulis, Ia juga memperkenalkan
dunia tulis menulis serta penerbitan dengan cukup unik karena menggabungkan
konsep pendidikan dan penulisan secara beriringan.
Dan hal baik ini dilakukannya
secara gratis atau cum-cuma tanpa mengharapkan imbalan, karna ia sendiri
memiliki konsep yang menggabungkan sekolah dan penerbitan secara bersamaan.
"Sekolah ini punya sayap penerbitan Indie Book Corner. Konsepnya,
menggabungkan antara wadah pendidikan dan wadah penerbitan. Sehingga kedua hal
itu bisa menghasilkan kreatifitas yang baik" Ucap Irwan.
Hal ini menghasilkan
banyak anak-anak muda yang jadi gemar menulis dan menyukai konsep penerbitan
tanpa meninggalkan kewajiban mereka dalam hal pendidikan karena dibawakan
secara beriringan, dan dengan akses yang gratis ini diharapkan juga untuk semua
anak-anak yang punya bakat dalam tulis-menulis dapat berkembang lewat
kesempatan yang diberikan oleh Irwan Bajang dan teman-temannya tersebut.
Dan kedua orang ini
adalah penerima Apresiasi Satu Indonesia Award dari Astra.
Pejuang Pendidikan Wajib
Belajar 12 Tahnun
Surya Dharma – Palu, Sulawesi Tengah
Salah satu orang yang
menjadi tokoh yang berjasa pada Kota Palu, Sulawesi Tengah, tepatnya di
Kecamatan Ulujadi adalah Surya Dharma. Beliau membuat tempat pendiddikan untuk
anak-anak yang kurang mampu untuk tetap mendapatkan pendidikan yang memadai,
Niatnya sendiri adalah untuk membuat pendidikan tetap menjadi prioritas bagi
anak bangsa terutama tempat ia tinggal.
Banyak anak yang tinggal
dekat dengan tempatnya tidak bisa mendapat kesempatan untuk mengasah kecerdasan
mereka dalam belajar karena harus bergumul dengan ekonomi keluarga
masing-masing, dengan orang tua yang rata-rata bekerja serabutan dengan gaji
harian dari hasil bekerja sebagai buruh cuci atau buruh bangunan membuat
anak-anak dengan masa depan yang baik ini tidak bisa melanjutkan pendidikan
mereka ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA).
Karena alih-alih memakai
seragam Osis dan berkeliaran di sekitar lingkungan sekolah, mereka malah harus
pergi dengan baju biasa ke tempat yang bahkan tidak akrab sama sekali dengan
penidikan, mereka dituntut untuk bekerja sebagai pengamen, juru parkir, dan
bahkan menikah muda.
Setidaknya dengan lulus
SMA mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang baik
juga. Karena itu Surya Dharma dengan dermawan membuat kelas informal bagi
mereka yang ingin menyelesaikan studinya hingga 12 tahun dan kemudian mengambil
paket C. Program yang ia bangun dengan istrinya sendiri adalah ‘Tuntas Belajar
12 Tahun’.
Ia mendirikan program ini
bersama sang istri yang yang juga memiliki latar belakang seperti dirinya,
yaitu guru. Banyak anak-anak dari berbagai umur bisa merasakan bagaimana pendidikan
secara tuntas berkat pekerjaan mulia mereka ini, anak-anak disana juga
diajarkan banyak hal, seperti Bahasa Inggris, Forografi, Komputer dan masih
banyak lagi.
Dari 10 anak yang ia
miliki, kini ia bisa mengajar sebanyak 150 anak dan masih akan terus bertambah,
ia berharap anak-anak yang diajarkan nya ini bisa menggunakan ilmu ini dengan
baik dan membuka peluang setidaknya untuk masa depan yang lebih baik.

Komentar
Posting Komentar